Image

Kajian MTO Islam sebagai sistem akhlaq

Islam tidak hanya sebagai agama ritual semata. Tetapi salah satu topangan utamanya adalah pembentukan akhlaq manusia, sehingga mampu meningkatkan peradaban dan kualitas hidup antar manusia.

MTO8

Kajian Majelis Taklim Online kali ini akan mengupas lebih detail tentang ISLAM SEBAGAI SISTEM AKHLAQ.

 

Kali Ini Tim KAMUS akan menghadirkan Ustad DR. H. Agus Setiawan, MA. untuk membahas detail tentang bagaimana islam dapat teraktualisasi dan juga berfungsi sebagai panduan akhlaq dalam menjalankan kehidupan yang lebih berperadaban.

 

Selamat Bergabung dan mengeksplorasi materi kali ini.

Image

yang hangat di musim dingin

1889041_229177443934370_1926060796_o

Feb 08

MTO edisi Februari 2014

Alhamdulillah, dengan izin Allah Majelis Taklim Online kembali diadakan pada 2 Februari 2014. Kajian rutin yang diadakan secara online ini dilaksanakan pada pukul 13.30 – 15.52 CET. Majelis perdana di tahun 2014 ini diisi oleh Ust Drs. H. Syatori Abdurrauf Al hafizh, pimpinan pondok pesantren Darus Solihah, Yogyakarta. Lantunan ayat suci Al Qur’an memulai berkahnya acara dan dilanjutkan dengan pengenalan KAMUS. Antusiasme masyarakat muslim Indonesia di Perancis yang mengikuti kajian kali ini cukup besar dan berasal dari beberapa kota. Hal ini ditunjukkan dengan jumlah keikutsertaan peserta kajian online sebanyak 16 akun terdaftar dan beberapa aku tersebut diikuti oleh kelompok jama’ah pengajian rutin. Meski sempat mengalami beberapa kendala teknis, namun hal tersebut tidak mengurangi konsentrasi penyampaian materi oleh Ust Syatori. Berikut kami tuliskan rangkuman materi pada MTO edisi Februari 2014.

======================RANGKUMAN MATERI================================

- nikmat nomor 1 : nikmat iman.

- Orang yang beriman itu adalah mukmin.

- di dunia itu ada 2 jenis mukmin, mukmin betulan dan mukmin kebetulan(karena lingkungan dsb)

- untuk membuktikan iman seseorang, ada ujiannya (Q.S. Al Ankabut 29:2-3)

- setelah itu ada hasil yang menentukan orang tsb mukmin shodiq(betul) atau mukmin kadzib (kebetulan).

- setelah itu, muncul yang namanya pengaruh, jika mukmin shodiq –> mengisi keimanan dengan kebaikan (amal sholih) –> (salah satu alasan di dalam Qur’an banyak kata2 amanu diikuti wa amilush sholih). sedangkan mukmin kadzib –> mengisi keimanan dengan keburukan, sehingga padam kebaikannya.

 

- hidup ini ibarat berjalan, ada “dari” (asal/yg ditinggalkan) dan “ke” (tujuan).

- hidup itu berjalan meninggalkan dunia dan menuju ke akhirat

- dalam periode perjalanan tersebut, Allah memberikan kita waktu yang disebut dengan umur untuk memanfaatkannya.

- ada yang bertanya, umur setiap orang berbeda-beda. kalau begitu apakah Allah tidak adil?

- Allah sudah mempersiapkan usia seseorang untuk mencapai ke surga, tidak bisa dinilai dengan logika manusia.

- Ibarat orang yang diberi hadiah di tempat lain, namun tidak diberi tahu berapa batas waktu maksimal yang diperbolehkan agar tetap mendapatkan hadiah, maka kita akan menyegerakan sampai di tempat tersebut.

- Karena kita sebagai manusia tidak tahu kapan waktu sampai ke akhirat itu, maka kita harus menyegerakan untuk mempersiapkan.

 

- kenapa belum bisa membersihkan dosa walaupun sudah berbuat kebaikan?

- Jawabannya ada di tazkiyatun nufus (penyucian jiwa).

- Kita masih melakukan hal buruk karena belum tersambung antara pikiran dan perasaan, itulah yang menyebabkan pikiran dan perasaan tidak menyambung.

- Sebenarnya pikiran dan perasaan adalah dua hal yang menyatu.

- Pikiran adalah piranti tubuh untuk membedakan baik dan buruk, Contohnya adalah pemaaf, merupakan adalah hasil pikiran.

- Jika kita punya pikiran bahwa surga lebih tinggi, maka usaha kita harus sungguh-sungguh

- Jika kita punya waktu yang terbatas, maka kita harus berpayah-payah pada waktu tersebut

 

- inginkah kita menjadi orang yang tawadhu?

- inginkah kita menjadi orang yang riya’? Riya’ karena pahalanya ingin dipuji.

 

- Kita harus menaikkan derajat pikiran, hingga perasaan dikendalikan oleh pikiran dan bukan sebaliknya.

- Sebagai contoh, kalau kita makan jeruk dan rasanya asam, kita akan menganggapnya sebagai keuntungan atau kerugian?

- Jika kita masih berpikir itu adalah kerugian, maka pikiran masih dikendalikan perasaan karena sesungguhnya itu adalah keuntungan.

- Kita merasa beruntung karena jeruk ini yang makan kita dan bukan orang lain, sehingga kita menyelamatkan orang lain dari memakan jeruk yang masam.

 

- Cara melepas kebiasaan meninggikan perasaan di atas pikiran/cara menyambung pikiran dan perasaan :

1. tetap mengaji: mendengarkan ilmu dan nasehat.

2. doa. analoginya sebagai berikut. Perang zaman dulu dan sekarang berbeda. kalau zaman dulu harus pakai pasukan, kalau sekarang cukup pakai rudal. Tapi apakah rudal benar-benar mencapai sasaran? belum tentu. Oleh karena itu sasaran rudal dipasang alat bernama homing device agar rudal meluncur tetap pada sasaran. Kita saat ini ketika berdoa seperti memasang homing device pada diri kita. Rudalnya adalah doa yang terkabul, agar doa itu sampai dan dikabulkan Allah pada kita dan tidak ‘salah sasaran’ ke orang lain. Sekaligus doa itu menutup peluang kita menolak kebaikan.

 

Allahu a’lam bish Showwab.

 

====================================================================================

P.S. : agar tetap update dengan informasi seputar kajian dan kegiatan Islam lain di Perancis, ikuti Facebook dan Twiter kami di https://www.facebook.com/kamus.france dan @KamusFR

Older posts «